Hujan turun pelan sore itu ketika Daniel duduk sendiri di bangku taman sekolah. Tangannya menggenggam buku tulis yang penuh coretan, namun pikirannya melayang jauh. Nilai ujiannya menurun, orang tuanya sedang mengalami kesulitan ekonomi, dan ia mulai merasa Tuhan terasa jauh. Untuk pertama kalinya, Daniel merasa sendirian—meski dikelilingi banyak orang.
Tak lama kemudian, Mika datang dan duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa. Mika adalah sahabat Daniel sejak kecil. Mereka berbeda sifat—Daniel pendiam, Mika ceria—namun persahabatan mereka terjalin kuat karena satu hal: iman kepada Tuhan.
“Aku lihat kamu sering murung akhir-akhir ini,” kata Mika pelan. “Mau cerita?”
Daniel menghela napas panjang. Ia ragu, namun akhirnya membuka hatinya. Ia bercerita tentang ketakutannya akan masa depan, tentang rasa gagal, dan tentang doanya yang terasa tak terjawab. Mika mendengarkan dengan sungguh-sungguh, tanpa menghakimi, tanpa menyela.
Setelah Daniel selesai, Mika tersenyum kecil. “Kamu tahu,” katanya, “kadang Tuhan tidak langsung mengubah keadaan, tapi Dia selalu menguatkan kita lewat orang-orang yang Dia kirimkan.”
Mika lalu membuka Alkitab kecil yang selalu ia bawa. Ia membacakan,
“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17)
Kata-kata itu menembus hati Daniel. Ia menyadari bahwa di tengah kesulitannya, Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Tuhan hadir melalui persahabatan yang tulus—melalui seseorang yang mau mendengarkan, mendoakan, dan berjalan bersama.
Mereka pun menundukkan kepala dan berdoa bersama di bangku taman itu. Doa sederhana, namun penuh iman. Daniel merasakan damai yang belum ia rasakan sejak lama. Masalahnya belum selesai, tetapi hatinya dikuatkan.
Sejak hari itu, persahabatan mereka semakin bertumbuh. Mereka saling mengingatkan untuk tetap berharap, saling mendoakan sebelum ujian, dan saling menguatkan ketika salah satu jatuh. Daniel belajar bahwa persahabatan sejati bukan hanya tentang tawa, tetapi tentang kesetiaan dalam doa.
Ia pun teringat satu ayat lagi yang kini menjadi pegangan hidupnya:
“Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” (Ibrani 10:24)
Dalam persahabatan yang dibangun di atas kasih Kristus, Daniel menemukan kembali harapan—dan iman yang bertumbuh lebih kuat dari sebelumnya.